Opini

GegaraTukang Cuci dan Tukang Masak Rebutan Periuk Nasi, Negara Jadi Pusing 7 Keliling

11
×

GegaraTukang Cuci dan Tukang Masak Rebutan Periuk Nasi, Negara Jadi Pusing 7 Keliling

Share this article
Tukang Cuci dan Tukang Masak

Opini

Oleh : Henddra Widjaja

VOC, Jakarta – Negeri ini memang tidak pernah kehabisan panggung hiburan. Di saat rakyat jelata pusing memikirkan isi dompet yang makin menipis, para petinggi Aparat Penegak Hukum (APH) di pusat kekuasaan justru asyik memainkan teater komedi gelap yang membuat kepala seluruh negara pening tujuh keliling. Publik hari ini dipaksa menonton drama kolosal bertajuk “Saling Sandera, Saling Telanjangi” yang dipicu oleh perseteruan sengit antara kubu Tukang Cuci dan gerombolan Tukang Masak. Akibat ego sektoral dua profesi dadakan ini, tatanan hukum negara bergeser menjadi arena sirkus yang menggelikan.

Babak Pertama: Ketika Tukang Cuci Mengobrak-abrik Dapur Tukang Masak

Ketegangan nasional ini bermula dari dapur program strategis nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG). Entah kekurangan personel atau bagaimana, sejumlah oknum penegak hukum berseragam cokelat tiba-tiba dialihfungsikan menjadi komite “Tukang Masak” untuk mengurusi isi piring anak-anak sekolah. Sayangnya, alih-alih meracik menu penuh gizi, bau gosong korupsi justru terendus sampai ke luar jendela.

Melihat ada kejanggalan di dapur sebelah, barisan “Tukang Cuci Uang” dari jajaran Jampidsus Kejaksaan Agung langsung bergerak memegang mesin cuci hukum mereka. Tanpa ragu, sang Tukang Cuci menyikat dan menciduk seorang oknum bos Tukang Masak berpangkat jenderal bintang satu. Sang jenderal diduga kuat nekat menilap bumbu-bumbu anggaran program gizi demi memperkaya diri sendiri dan gerombolannya. Penangkapan sang koki bintang satu ini seketika merusak keharmonisan antar-instansi dan membuat kubu Tukang Masak meradang karena dapurnya diobok-obok.

Babak Kedua: Balasan Sengit Tukang Masak Membongkar Jemuran Tukang Cuci

Bukan Tukang Masak namanya kalau tidak punya nyali untuk membalas dendam dengan bumbu yang lebih pedas. Merasa harga diri korpsnya diinjak-injak, rekan-rekan dari sang koki bintang satu langsung melancarkan “serangan balik” yang tak kalah brutal. Mereka mengganti celemek masak mereka dengan rompi serbu, lalu bergerak masif melakukan penggerebekan tandingan di 12 lokasi berbeda.

Sasarannya? Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung mengincar wilayah kekuasaan sang Tukang Cuci di kawasan Sentul, Bogor. Hasilnya sangat mencengangkan sekaligus membagongkan publik. Dalam penggerebekan kilat tersebut, gerombolan Tukang Masak berhasil membongkar “jemuran rahasia” milik kubu Tukang Cuci. Mereka menyita tumpukan harta karun yang diduga kuat merupakan hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) berupa uang tunai berbagai mata uang, emas batangan, hingga dokumen berharga dengan nilai fantastis: Rp476 miliar!

Akrobat hukum ini memperlihatkan pemandangan yang luar biasa konyol: Yang satu sibuk menangkap koki korup, yang satunya sibuk membongkar tumpukan uang ratusan miliar milik sang penyidik. Negara pun dibuat pusing bukan kepalang karena menyadari fakta pahit bahwa kedua belah pihak rupanya sama-sama tidak bersih!

Hukum Rasa Saling Sandera: Siapa yang Paling Bersih?

Akibat perang terbuka ini, suasana di ibu kota mendadak mencekam secara jenaka. Rumah dinas bos Tukang Cuci bahkan harus dijaga ketat oleh pasukan loreng bersenjata lengkap demi menghindari gertakan atau aksi “siram kuah panas” susulan dari kubu Tukang Masak.

Masyarakat akhirnya paham, penegakan hukum di negeri pembual ini tidak lebih dari sekadar urusan bagi-bagi lapak. Jika jatah dapur diganggu, maka jemuran haram milik lawan akan langsung dibongkar ke media. Hukum dioperasikan bukan untuk membela hak rakyat, melainkan sebagai alat tawar-menawar politik untuk saling mengunci dan menyelamatkan gerbong masing-masing dari jeruji besi.

Tak Perlu ke Antartika, Presiden Tinggal Seret Tukang Masak dan Tukang Cuci ke Meja Hijau.

Sudah saatnya Presiden mengambil tindakan tegas dan menyentil kuping para Tukang Cuci dan Tukang Masak ini. Kembalikan mereka ke fungsi aslinya masing-masing. Jangan biarkan negara ini hancur dan pusing berlarut-larut hanya karena para elit berseragam sibuk bertengkar memperebutkan periuk nasi dan menyembunyikan tumpukan harta haram mereka.

Rakyat menuntut transparansi total tanpa sensor: Seret jenderal koki yang tega mengorupsi makanan anak sekolah, dan periksa sampai akar-akarnya asal-usul uang Rp476 miliar yang ditemukan di Sentul! Ganti para pembual berseragam ini dengan aparat yang benar-benar tahu cara bekerja demi rakyat, bukan yang hobi main drama saling sandera! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *